141022-moda-transportasi-umum-amerika

Harianjogja.com, JOGJ- Kepala Dinas Perhubungan Pemkot Jogja Hario Yudo menilai moda tranportasi kereta gantung layak untuk dipertimbangkan sebagai moda alternatif transportasi di Jogja. Alasannya, dengan kereta gantung diharapkan penggunaan kendaraan bermotor dapat berkurang. Secara prinsip, katanya, moda tranportasi kerata gantung tersebut bisa mengurangi beban jalan raya.

“Namun, project tersebut harus tetap menyesuaikan dengan kondisi topografi daerah, budaya dan terjangkaunya biaya investasi yang dibutuhkan. Usulan perencanaan pembangunan moda transportasi merupakan wewenang dari Pemerintah Provinsi DIY,” kata Hario.

Alasan kedua, sambung Hario, Jogja membutuhkan moda tranportasi yang tidak menggunakan jalan raya. Pasalnya, wilayah tersebut tidak memungkinkan untuk menambah atau mempelebar badan jalan.

“Maka moda tranportasi yang tidak menggunakan jalan raya bisa dijadikan pilihan.  Selain kereta gantung atau monorel, perlu altenatif yang perlu dipertimbankan,” ujarnya.

Dijelaskan Hario, penggunaan moda tranportasi kereta gantung atau monorel tidak hanya untuk kepentingan Kota Jogja saja. Pasalnya, masalah transportasi di DIY juga melibatkan empat kabupaten lainnya sebagai daerah penyangga.

“Harus ada kerjasama antar pemerintah dan langkah koordinasi altenatif segera dilakukan agar semua perencanaan bisa dieksekusi,” paparnya.

Sumber : harianjogja.com

Peningkatan infrastruktur jalan dan jembatan Selokan Mataram yang menghubungkan Kutu ke Jalan Monjali hingga kini belum selesai dikerjakan.

Proyek milik Kabupaten Sleman ini, menelan anggaran lebih kurang Rp 15 miliar. Rencananya akan dibuat dua jembatan menuju arah barat dan timur

"Ini mau dibuat jalur, kemarin kan ini nggak muat buat dua kendaraan kanan kiri. Tiga jembatan akan dibuat, ujung sana yang mau ke arah Monjali", kata seorang pengawas proyek, Beni, Selasa (21/10/2014).

Direncanakan proyek jembatan akan rampung akhir tahun 2014. Selain pembuatan jembatan. Jalan inspeksi Selokan Matarm menuju ke Monjali pun akan diaspal.

 

Sumber : tribunnews.com

angkutan-barang

Harianjogja.com, KULONPROGO - Kendaraan berat yang melintasi jalan nasional di wilayah Kulonprogo mulai berangsur turun, seiring dibukanya kembali Jembatan Comal di Pekalongan, Jawa Tengah. Jalan di wilayah Kulonprogo ini mulai lengang.

Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informasi (Dishubkominfo) Kulonprogo Joko Purnomo mengatakan, sudah tampak ada penurunan kepadatan.

Dia mengungkapkan, jalan sudah tampak lengang dengan berkurangnya jumlah kendaraan berat yang melintas.

“Kalau dari pengamatan kami, truk-truk besar mulai berkurang. Meski masih tampak ada beberapa,” ujar Joko saat ditemui di kantornya, Jumat (17/10/2014).

Kasi Manajemen Lalu Lintas Dishubkominfo Kulonprogo Hermawan mengatakan, sejak Jembatan Comal ambles beberapa bulan lalu, arus lalu lintas di Kulonprogo menjadi padat. Bahkan, setiap harinya traffic lamp yang ada di kawasan simpang lima Karangnangka selalu ramai antrean kendaraan.

“Antrean kendaraan di lampu merah simpang lima bisa mengular. Kalau dari sisi barat, antrean bisa mencapai depan Terminal Wates. Akibatnya, terkadang lalu lintas angkutan umum terganggu,” papar Joko.

Lebih lanjut Hermawan mengatakan, panjang antrean kendaraan tersebut bisa mencapai 300 meter lebih. Namun, kini kepadatan mulai berangsur turun. Setidaknya, penurunan kendaraan bertonase berat mulai menyusut sekitar 50% lebih.

“Kalau waktu arus kendaraan padat truk-truk tronton bisa sampai 300 meter lebih. Sekarang paling hanya sekitar 100 meter saja antrean kendaraannya,” jelas Hermawan.

Sumber : harianjogja.com

pit jogja

Harianjogja.com, JOGJA-Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja, Wirawan Hario Yudho mengatakan akan menggiatkan upaya pengalihan masyarakat yang tadinya menggunakan kendaraan pribadi untuk memilih kendaraan angkutan umum. Tentunya dengan langkah yang mendukung. Semata-mata sebagai salah satu solusi mengatasi kemacetan.

Dishub akan menggelontorkan sejumlah dana yang berasal dari anggaran daerah, untuk membuat sejumlah tempat penitipan sepeda. Yang akan ditempatkan di tiap halte Trans Jogja, di wilayah Kota Jogja.

Upaya ini masuk dalam tahap penyusunan, persiapan, dan survei lokasi. Karena, tak semua lokasi halte Trans Jogja, memiliki luas yang tepat untuk ditambahkan tempat penitipan sepeda tersebut.

“Melalui program ini, harapannya, setiap siswa sekolah atau karyawan, bisa menggunakan sepeda dari rumah, menuju halte Trans Jogja,” ungkap Hario.

Kemudian, mereka nantinya menggunakan Trans Jogja ke tempat tujuan, sekolah, kantor atau lokasi lainnya yang dituju.

Sumber : harianjogja.com

rambu-kaca-sur

Harianjogja.com, JOGJA - Dinas Perhubungan Kota Jogja akan memenuhi permintaan dari masyarakat untuk memasang cermin cembung di beberapa tikungan guna meningkatkan keselamatan pengguna jalan.

“Ada banyak permintaan dari wilayah agar melengkapi beberapa tikungan dengan cermin cembung. Namun, belum semua permintaan itu bisa kami penuhi,” kata Kepala Dinas Perhubungan Kota Jogja Wirawan Hario Yudho, Minggu (12/10/2014).

Menurut dia, Dinas Perhubungan Kota Jogja menerima sekitar 800 permintaan dari masyarakat untuk pengadaan cermin cembung, namun baru ada sekitar 500 cermin yang bisa dipenuhi.

Dinas Perhubungan Kota Jogja sudah melakukan pengadaan cermin cembung tersebut melalui layanan pengadaan secara elektronik Pemerintah Kota Jogja dengan nilai anggaran sekitar Rp1,7 miliar.

Proses lelang yang diikuti sekitar 30 peserta tersebut sudah memasuki masa sanggah untuk kemudian dilakukan penetapan pemenang lelang.

“Harapannya, lelang bisa dilakukan dengan lancar sehingga pemasangan cermin cembung bisa diselesaikan sebelum akhir tahun anggaran,” katanya.

Sumber : harianjogja.com

terminal-bus-wates-kulonprogo

BANTUL - Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kesulitan mengoptimalkan fungsi terminal bus yang terdapat di daerah ini karena terus berkurangnya jumlah armada transportasi penumpang umum.

“Kalau dulu-dulu [terminal bus] masih bisa difungsikan, namun untuk saat ini saya tidak yakin, karena jalur jarang dilalui akibat banyaknya pengusaha angkutan umum di Bantul yang mengurangi armada,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bantul, Suwito, Rabu (8/10/2014).

Menurut dia, di Bantul terdapat dua terminal atau tempat pemberhentian bus sementara yakni Terminal Palbapang dan Terminal Imogiri, serta beberapa titik pemberhentian bus pada jalur angkutan umum di antaranya Piyungan dan Srandakan.

“Memang masih berfungsi sebagai tempat ampiran angkutan, namun tidak sebanyak dulu, misalnya jalur selatan itu saat ini sulit untuk mobilitas penumpang, begitu juga jalur timur jalan Jogja-Wonosari [Piyungan],” katanya.

Ia mengatakan, sulitnya optimalisasi terminal bus karena banyaknya pengusaha angkutan yang mengurangi armada ini akibat penurunan minat warga yang memanfaatkan angkutan umum dalam aktivitas sehari-hari baik bekerja maupun ke sekolah.

“Mobilitas penumpang di Bantul tidak sepadat di daerah Jogja, apalagi saat ini banyak warga yang memiliki sepeda motor, jadi karena penumpang tidak ada angkutan pada berhenti operasi, ini merupakan seleksi alam,” kata Suwito.

Meski begitu, kata dia pihaknya akan tetap berupaya mengoptimalkan fungsi terminal bus, meski diakui upaya tersebut tidak mudah dilakukan, sehingga harus bekerja keras termasuk melakukan koordinasi dengan pengusaha angkutan.

“Kami akan mencoba menghidupkan kembali terminal, misalnya untuk Terminal Palbapang itu perlu ada paksaan agar bus masuk terminal, di sana memang sudah bagus, namun bagaimana supaya dapat berfungsi optimal,” katanya.

Sumber : harianjogja.com

Halaman 1 dari 297