b_140_0_16777215_00___images_berita_2014_laka-maut_0209.jpgTiga orang tewas dalam kecelakaan maut di ruas jalan Temanggung-Semarang, tepatnya di Dusun Digelan II, Soropadan, Kabupaten Temanggung, Selasa (2/9/2014). Sementara sembilan orang lainnya luka ringan dan sedang.

Informasi yang dihimpun Tribun Jogja, kecelakaan bermula saat mobil Izusu Elf bernomor polisi AA 1042 HF yang berpenumpang 12 orang melaju dari arah Semarang menuju Magelang. 12 orang penumpang tersebut merupakan rombongan karyawan rumah makan Cabe Rembang yang hendak berpiknik di Yogyakarta.

Nahas, saat melewati jalur tersebut, mobil angkutan yang dikemudikan Joko, warga Purworejo itu, sedikit oleng dan menabrak truk tronton bermuatan pasir bernomor polisi H 1814 DE. Akibat kecelakaan itu, bagian kap dan bodi mobil carteran itu rusak dan nyaris tak berbentuk. Sementara, tiga orang termasuk sopir tewas.

"Saat kecelakaan itu, saya mendengar suara benturan agak keras. Mirip ban meletus disertai suara benturan. Ternyata ada kecelakaan," kata Khoirudin (63), warga sekitar lokasi kejadian.

Kejadian itu menurutnya terjadi sekitar pukul 05.50, dimana banyak anak sekolah yang sedang menunggu angkutan umum. Khoirudin sempat merinding dan takut melihat kejadian itu. Dia hanya bisa mengucap kata doa usai melihat kejadian mengerikan itu.

"Saya hanya bisa mengucap Inalilahi Waina Lilahi Rojiun," katanya.

Kasatlantas Polres Temanggung, AKP Andhika Wiratama menjelaskan, pihaknya masih menyelidiki penyebab kecelakaan maut tersebut. Hanya, dari olah TKP diketahui mobil angkutan berada di jalur berlawanan.

"Kami masih menyelidiki penyebabnya. Mobil carteran itu berada di luar jalurnya," katanya.

Terkait dugaan mengantuk, dia mengaku masih menyelidiki lebih dalam dari keterangan saksi dan korban. Adapun, korban meninggal dibawa ke RSU Temanggung. Sementara, korban luka dibawa ke RSJ Kramat Magelang

b_140_0_16777215_00___images_berita_2014_walikota-dan-wawali_1306.jpgWali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti siap menghadapi berbagai polemik yang potensial muncul saat wacana pengembangan trem digelontorkan. Terobosan angkutan publik baru ini jadi program prioritas Haryadi untuk mengatasi kemacetan Yogyakarta.

"Jangan hanya mengeluh dimana-mana macet, tapi mari beralih ke angkutan publik," kata Haryadi dijumpai di kantornya, Jumat (29/8).

Ia menegaskan, kondisi perkotaan Yogyakarta membutuhkan moda transportasi publik yang beragam. Sebab, cakupan wilayah yang terakses angkutan publik itu hanya 60 persen. Akibatnya kendaraan pribadi mendominasi. Sementara volume jalan sulit ditambah. Akhirnya macet. "Pengembangan trem ini sudah dibutuhkan di Yogyakarta," imbuhnya.

Namun, tak ubahnya program baru lainnya, selalu ada pro-kontra di masyarakat. Apalagi jika sudah menyangkut ekonomi warga. Khusus pengembangan trem, ada potensi singgungan dengan para pengguna jalan lainnya. Meliputi singgungan dengan pelaku usaha transportasi publik lainnya, misal Trans Jogja dan bus kota. Maupun singgungan dengan para pelaku ekonomi di tepi jalan, misal juru parkir di tepi jalan.

"Ya namanya program baru, pasti ada pro dan kontra," terang Wali Kota yang belum lama ini menyabet penghargaan Satyalencana Pembangunan.

Sesuai pernyataan Gubernur DIY, Kamis (28/8) lalu, akan ada persetujuan resmi dengan Kementerian Perhubungan RI dan UGM untuk memulai feasibility studi (FS) pada 2015. Dari situ, akan terlihat bagaimana dampak sosial ekonomi dari trem. Wakil Rektor UGM Budi Santoso Wigyosukarto, yang ikut terlibat dalam proses kajian awal, sempat menyampaikan, pengembangan trem harapannya bisa dimulai pada 2017. "Ya, saya harap dukungan dari semua pihak," imbuh Haryadi.

Ia menargetkan, setelah kajian usai, pengembangan trem bisa diselesaikan dalam kurun waktu tiga tahun. Ketika ditanya, bagaimana kesiapan infrastruktur jalan Yogya menerima trem, Haryadi menjawab optimis. Ia yakin, lebar jalan-jalan di Yogyakarta siap dilintasi trem. Sebagai contohnya Jalan Solo.

"Jika parkir tepi jalan itu tak ada, jalannya sebenarnya cukup lebar. Sementara trem paling butuh sekitar tiga meter saja (lebarnya), bisa di tepi atau tengah badan jalan," terang pria yang akrab disapa HS itu.

Begitu juga dengan jalur-jalur dalam kota lainnya misal Jalan Margo Mulyo (Mangkubumi). Lebar jalannya mampu dilintasi trem. Lagipula, jalur trem tersebut masih bisa dilewati kendaraan lain. Jadi, operasional trem tidak lantas menghabiskan ruang jalan.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Aset UGM Budi Santoso Wigyosukarto melihat kendala utama pengembangan trem ini justru bukan dari kesiapan infrastruktur jalannya. Melainkan bagaimana mengubah kultur sosial warga. "Warga ini siap nggak sharing life. Sekarang ini kan orang naik sepeda motor seenaknya sendiri. Kalau pakai angkutan umum, itu kan sharing life," ujar Dosen Teknik Sipil UGM tersebut.

Sosiolog UIN Sunan Kalijaga, Pajar Hatma Indra Jaya melihat potensi konflik sosial yang hampir sama. Dalam pandangannya, Yogya sudah kehilangan nilai toleransi ketika dikaitkan dengan ekonomi.

"Toleransi agama bagus, tapi kalau toleransi dalam kehidupan sehari-hari, apalagi yang menyangkut ekonomi, itu sudah hilang," kata Pajar kepada Tribun Jogja.

Masalah ekonomi itulah yang potensial menjadi kendala saat pengembangan trem di Yogya. Bisa dibayangkan, ketika jalur trem mulai dibangun, mungkin ada pelaku parkir yang harus dipindahkan. Praktis, mereka akan berontak karena mengganggu sumber pemasukan mereka.

Karenanya, Pajar menilai, pengembangan trem sebaiknya tidak langsung diterapkan di perkotaan Yogyakarta. Pemda harus membuat pilot project dulu di lokasi lain. Lokasi paling tepat di airport city Kulonprogo yang masih dalam proses perencanaan. Dengan demikian, bisa meminimalisir potensi konflik sosial di warga.

"Diujicobakan dulu di airport city Kulonprogo yang lahannya masih luas. Kalau sudah berhasil, baru diterapkan di perkotaan Yogyakarta," ucapnya. 

 

Sumber : tribunjogja.com

Jika DKI Jakarta merencanakan monorail, Yogyakarta kini menyiapkan trem alias kereta api di tengah kota untuk mengatasi kemacetan. Pemda DIY bekerjasama dengan UGM dan Kementerian Perhubungan RI kini tengah menyusun kajian terkait rencana pembangunan angkutan publik baru itu.

"Trem ini penting untuk menambah pilihan angkutan publik di Yogyakarta. Selama ini angkutan publik kan hampir tidak ada," kata Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Aset UGM Budi Santoso Wigyosukarto usai paparan program di hadapan Gubernur DIY di Kepatihan, Kamis (28/8). 

Saat ini, pihaknya masih mengkaji soal kemungkinan penerapan jalur trem maupun armadanya. Dalam kajian awal, trem direncanakan mengitari ringroad. Jalur trem juga akan membelah jalan-jalan dalam kota untuk menghubungkan obyek wisata dan pusat pendidikan. Ada juga jalur yang akan menyasar hingga kawasan airport city di Kulonprogo. 

"Tahun depan (2015), akan mulai Feasibility Study (FS) dengan Dirjen Perkeretaapian. Harapannya 2017 sudah bisa diimplementasikan," terang Budi.

Dalam FS, akan dilihat bagaimana kesiapan dan kebutuhan infrastruktur penunjang trem itu. Sudah muncul beberapa opsi misalnya trem akan memanfaatkan badan jalan atau bahkan memanfaatkan kawasan sungai yang membelah Kota Yogyakarta. Dari kajian-kajian itu, baru bisa diperkirakan kebutuhan pembiayaannya. 

Lebih jauh Budi menjelaskan, pengembangan trem ini sejalan dengan program green city yang akan diterapkan di DIY. Itu juga akan terkoneksi dengan program green campus yang dikembangkan UGM selama ini. "Secara bersamaan, UGM juga akan mengembangkan light rail mengitari kampus untuk membatasi jumlah kendaraan yang masuk kawasan kampus," papar dosen Teknik SIpil UGM itu. 

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X sepakat dengan rencana pengembangan trem. Baginya, keberadaan trem sudah mendesak mengingat masalah kemacetan Yogyakarta. Sementara, perlebaran jalan sudah tidak mungkin dilakukan karena dampak sosialnya terlalu tinggi. 

Sedianya, tanggal 17 September 2014 akan ada penandatanganan dengan Kementerian Perhubungan untuk memulai feasibility studi sistem perkeretapian perkotaan itu. "Harapannya, menteri yang baru bisa mendukung rencana Yogya ini," kata HB X.

Kendati demikian, DIY akan dihadapkan pada permasalahan besar dalam penerapan trem. Sebab, ada berbagai moda transportasi tradisional yang beroperasi di DIY misalnya becak dan andong. Kedua moda transport tradisional ini memiliki kecepatan yang berbeda dengan trem. "Nah, itu akan jadi problem nggak. Itu yang harus diantisispasi," kata Ngarso Dalem. 

Selain DIY, pengembangan trem juga sudah dirancang di Surabaya dan Makassar. Khusus di Surabaya, pengembangan trem rencananya akan diusulkan BAPPENAS dalam RAPBN 2015 pada bulan Oktober 2014 mendatang. Dengan demikian, proses ground breaking dimungkinkan digarap mulai awal hingga pertengahan tahun 2015. Sedangkan masa pengerjaan proyek itu sendiri direncanakan berlangsung selama 2 tahun atau hingga pertengahan tahun 2017.

 

Sumber : tribunnews.com

b_140_0_16777215_00___images_berita_2014_Dishub_Bantul.jpgDinas Perhubungan (Dishub) Bantul terus melakukan pantauan terhadap keberadaan 'traffic light' di Bantul. Fasilitas ini berperan sangat vital dalam upaya membangun budaya tertib berlalulintas di tengah masyarakat. 

"Kami terus berusaha menjaga dan merawat agar bisa berfungsi sebagaimana mestinya," ujar Kepala Bidang Keselamatan Teknik, Sarana dan  Prasarana (KTSP) Dinas Perhubungan Bantul, Singgih Riyadi SE MM, Senin (28/8) disela perbaikan 'traffic light' di Kasongan Bantul.

Singgih merinci, sesuai datanya,  terdapat 14 titik yang menjadi tanggungjawab Dinas Perhubungan Bantul dalam perawatan dan perbaikan ketika terjadi kerusakan. Hampir semua lokasinya berada di daerah padat kendaraan. Dengan fakta tersebut, akan sangat membahayakan jika  keberadaannya sampai tidak berfungsi. "Keberadaan 'traffic light', sebagai pengatur sekaligus untuk membangun kedisiplinan masyarakat serta budaya tertib," jelasnya.

Menurut Singgih ada tim khusus sebagai pemantau sekaligus melakukan perbaikan jika terjadi kerusakan.  Selama ini pihaknya juga sangat terbantu oleh aktifnya masyarakat dalam memberikan informasi ketika traffic light. Sehingga bisa segera dilakukan perbaikan.

 

Sumber : krjogja.com

b_140_0_16777215_00___images_berita_2014_Jembatan_Gamping.jpgPengalihan arus kendaraan berat menuju jalur selatan, dikhawatirkan berdampak pada infrastruktur jembatan di wilayah Sleman, diantaranya Gamping dan Prambanan. Jika terus dilalui oleh truk, berpotensi menyebabkan amblesnya kedua jembatan tersebut.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Sleman Agoes Soesilo Endriarto mengatakan, kekhawatiran disebabkan dua jembatan tersebut berada didekat Alat Pemberi Isyarat Lalulintas (APILL).

Menurutnya, jika APILL sedang menyala merah kontan kendaraan tersendat dan berada tepat diatas jembatan. Apabila hal tersebut terjadi dalam waktu yang lama, maka akan memengaruhi konstruksi jembatan.

"Kita kan tahu, bahwa kendaraan berat yang dialihkan dari jalur pantura memiliki tonase yang tinggi, ini bisa memengaruhi konstruksi jembatan. Meski telah dialihkan menuju ring roadSelatan, namun masih saja ada yang lolos dan melalui kedua jembatan tersebut," ujarnya Senin (26/8/2014).

Oleh karena itu, pihaknya mengusulkan agar APILL diwilayah tersebut dipindahkan. Ia merinci, pada Jembatan Gamping yang berada di Jl Wates (Pelem Gurih-red) perlu dimundurkan. Hal ini untuk menghindari penumpukan diatas jembatan jika sedang padat.

Hal serupa juga perlu dilakukan untuk jembatan Prambanan, yang berada diatas kali Opak perlu ditata ulang.

 

Sumber : tribunjogja.com

Mulai Senin (25/8/2014), rekayasa lalu lintas di Jalan C. Simanjuntak mulai diberlakukan. Kendaraan yang boleh melintas di kawasan tersebut hanya dari sisi utara ke selatan.

Berdasarkan pantauan Harianjogja.com, kebijakan ini diberlakukan mulai pukul 08.00 WIB. Di sepanjang jalan tersebut, ada petugas dari Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) serta Kepolisian yang mengarahkan pengguna jalan.

Walau uji petik aturan ini diberlakukan kurang lebih selama satu bulan, tetapi pada Senin (25/8/2014) pagi, masih ada pengguna yang belum mengetahui ketentuan tersebut. Sehingga beberapa pengendara masih bermaksud melewati area dari sisi selatan ke utara.

Guna memperlancar arus, petugas berjaga-jaga sembari memberikan informasi mengenai pengalihan jalur di sejumlah persimpangan di sepanjang Jalan C. Simanjuntak, seperti di perempatan Mirota Kampus, pertigaan ELs Computer, pertigaan SMAN 6 Jogja serta pertigaan Mc Donald.

Adapun kebijakan penetapan satu arah di Jalan C Simanjuntak diberlakukan karena kepadatan kendaraan di jalan tersebut cukup tinggi.

Sumber  : harianjogja.com

Halaman 1 dari 293