uji-emisi 2404YOGYA - Badan Lingkungan Hidup (BLH) DIY bekerja sama dengan BLH Kota Yogyakarta, Dinas Perhubungan dan Polresta Yogyakarta menggelar uji petik emisi gas buang kendaraan bermotor. Uji petik dilakukan sebagai upaya pengendalian kualitas udara yang ada di Kota Yogyakarta.

Uji petik kendaraan tersebut dilakukan secara gratis di halaman Balai Kota Yogyakarta, Rabu (23/4). Menurut Kepala Sub Bidang Pengendalian Pencemaran Udara BLH DIY Bledug Bernanti, uji petik tersebut dilakukan satu kali dalam setahun, sebagai upaya mengendalikan emisi gas buang yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor.

Karena menurutnya, meskipun di Kota Yogyakarta dan DIY kualitas udaranya masih bagus, namun pengendalian kualitas udara tetap diperlukan. Mengingat saat ini, jumlah kendaraan semakin banyak, sehingga kontrol kualitas harus terus dilakukan.

"Dari hasil tes pada 2013 trennya (kualitas udara, Red) menurun dari tahun sebelumnya. Namun masih bagus dan layak," kata Bledug yang tidak menyebutkan secara pasti hasil tes tersebut.

Gas buang kendaraan bermotor merupakan salah satu indikator sumber pencemaran udara selain dari sumber lain semisal pencemaran emisi tidak bergerak seperti industri dan sumber pencemaran dari manusia contohnya asap rokok.

Bledug menjelaskan untuk Kota Yogyakarta ada beberapa titik yang kualitas udaranya hampir melewati ambang batas aman. Titik tersebut adalah di Mirota Jalan Godean, Jalan KHA Dahlan kemudian di depan Pasar Beringharjo dan di Jalan Parangtritis.

"Di titik tersebut memang belum melebihi ambang batas namun dilihat kerapatan yang ada sangat tinggi karena volume kendaraan yang ada di titik tersebut besar dan biasanya macet, maka otomatis gas buang yang dihasilkan sangat tinggi," tambah Bledug.

Lebih lanjut Bledug menjelaskan kualitas udara di Kota Yogyakarta akan semakin buruk saat musim liburan tiba. Sebab, sudah bukan rahasia umum, saat liburan Kota Yogyakarta dibanjiri kendaraan bermotor yang berasal dari luar Kota Gudeg.

Bledug menjelaskan, uji petik tersebut dilakukan sesuai amanat Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 39 tahun 2010 tentang baku mutu emisi gas buang kendaraan bermotor. Salah satunya menyebut, sepeda motor yang diproduksi diatas tahun 2010 dengan kategori 2 langkah atau 4 langkah kadar CO-nya harus 4,5 persen dan kadar HC 2000 ppm.

Sumber : jogja.tribunnews.com

pesawatterbangJakarta - Pertumbuhan moda transportasi udara di Indonesia terbilang pesat. Kondisi tersebut didorong oleh pertumbuhan masyarakat kelas menengah. Akibat pertumbuhan ini, daya tampung bandara-bandara besar seperti di pulau Jawa sudah penuh sesak. 

Alhasil diperlukan pembangunan bandara baru atau pengembangan terminal baru. Seperti rencana pembangunan Bandara Kertajati di Majalengka yang dibangun oleh Kementerian Perhubungan atau Bandara Kulon Progo di Yogyakarta yang dirancang dan dibiayai oleh konsorsium PT Angkasa Pura I (Persero) dan GVK (operator dan investor Bandara asal India). 

Berikut ini hasil penelusuran detikFinance, Rabu (23/4/2014), terhadap proyek bandara modern di pulau Jawa.

Sumber : finance.detik.com

aksi-vandalisme 2104YOGYA - Salah satu kelompok pelaku aksi corat-coret atau vandalisme menyasar rambu lalu lintas dan petunjuk arah di sejumlah wilayah di Yogyakarta disinyalir dilakukan kalangan pelajar. Untuk itu Kapolda DIY Haka Astana akan mengajak kalangan pelajar DIY untuk kerja bakti membersihkan rambu-rambu lalu lintas yang dicoret-coret.

"Sudah pernah kami utarakan ke kepala sekolah di satu SMA wacana kerja bakti itu. Ya pelakunya memang antara lain mereka, para pelajar, terutama saat malam," ucap Kapolda DIY Haka Astana dijumpai seusai peringatan Hari Kartini di Kompleks Perkantoran Pemda DIY di Kepatihan, Senin (21/4).

Tidak dipungkiri, lanjut Haka, vandalisme rambu lalu lintas ini biasanya bertambah pada saat kelulusan sekolah. Pelajar menggelar aksi coret-coret di berbagai lokasi. Satu di antara sasarannya ialah rambu lalu-lintas dan rambu petunjuk arah jalan. "Sebentar lagi kan ada lulusan SMA. Biasanya, kalau malam mereka euforia, coret-coret. Itu yang kami antisipasi. Makanya kami coba sampaikan ke sekolah-sekolah, mau nggak mereka kerja bakti saat lulusan nanti," imbuhnya.

Di samping itu, Kapolda DIY juga akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY untuk merealisasikan kegiatan kerja bakti membersihkan rambu lalu-lintas ini. Dengan harapan, rambu-rambu lalu lintas ini bisa berfungsi normal lagi. "Kalau dicoret-coret begitu kan pengendara bingung," tandasnya.

Haka mengaku sudah berulang kali mengupayakan upaya pembersihan rambu lalu lintas dari vandalisme. Desakan ke sejumlah pemangku kewenangan juga sudah disampaikan. Tapi belum ada tanggapan nyata. Sementara, ia tidak mungkin bekerja sendiri karena pengelolaan rambu lalu lintas ini bukanlah kewenangan langsung Polda DIY melainkan kewenangan Dinas Perhubungan bersama dengan Polri.

"Banyak rambu yang ditutup cat atau poster. Tapi, sampai sekarang memang belum ada solusinya," ucapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY Baskara Aji siap mendukung usulan Kapolda DIY tersebut. "Saya kira rencana Kapolda itu bagus, melibatkan pelajar bersih-bersih rambu agar mereka merasa ikut memiliki. Saya sudah dikontak Kapolda untuk itu," kata Baskara Aji kepada Tribun Jogja, Senin.

Menurut Baskara Aji, rencana kegiatan itu akan disampaikan ke masing-masing sekolah di DIY. Terutama di tingkat SMA sederajat, yang jumlahnya sekitar 500 sekolah. Menurut Aji, kegiatan semacam itu sekaligus untuk menggantikan pesta kelulusan yang identik dengan aksi coret-coret dan konvoi. "Daripada konvoi, nanti digantikan dengan aksi bakti sosial, kerja bakti membersihkan rambu ini misalnya," tandasnya.

Meski demikian, vandalisme terhadap rambu lalu lintas ini tidak bisa sepenuhnya disalahkan pada pelajar. Kenyataannya, aksi vandalisme tidak dilakukan oleh pelajar berseragam. Bisa jadi mereka remaja yang sudah lulus sekolah ataupun mahasiswa.

"Tapi pada prinsipnya, kerja bakti itu ide bagus. Nanti kami sampaikan saat rapat koordinasi bersama kepala sekolah sebelum pengumuman kelulusan. Harapannya, tiap sekolah merancang kegiatan pengganti pesta-pesta kelulusan yang negatif," tandasnya.

Sumber : jogja.tribunnews.com

aksi-vandalisme 2104YOGYA - Hasbih Alfi terlihat kebingungan melihat rambu lalu lintas (lalin) di kawasan Pojok Benteng Timur, Yogyakarta, Minggu (20/4) pagi. Ia tampak memicingkan mata dan menjulurkan lehernya agar bisa melihat lebih jelas rambu itu. "Sepertinya rambu dilarang putar balik," katanya dengan nada tidak yakin.

Warga Sewon, Kabupaten Bantul asal Bekasi itu kesulitan memahami maksud rambu di depannya tersebut lantaran permukaan rambu ditutupi poster-poster. Saking banyaknya, poster-poster berukuran kecil itu bisa menutupi sebagian besar muka rambu. Akibatnya, pengendara kesulitan melihat simbol apa yang ada di rambu tersebut. "Tidak kelihatan, tidak jelas," ucap Hasbih.

Sementara itu, Karyo, warga Yogyakarta lain juga kebingungan saat harus menerka maksud dari rambu yang bentuknya menyerupai huruf "H". Ia mengaku belum pernah melihat rambu jenis tersebut. Wajar saja, sebab rambu yang dimaksud sebenarnya adalah petunjuk jalan dua lajur, berbentuk dua garis hitam sejajar. Namun oleh ulah usil seseorang, pada bagian tengah rambu dibubuhi cat hitam vertikal sehingga rambu lalin itu terlihat menjadi huruf "H".

Aksi coret-coret (vandalisme) terhadap rambu lalin di Yogyakarta kian marak. Ada saja yang mengisengi rambu lalin menggunakan sticker, tulisan kecil yang mengganggu hingga poster dan cat semprot yang menutupi seluruh muka rambu. Aksi itu merusak fasilitas umum yang sebenarnya diperlukan oleh para pengguna jalan.

Dari pengamatan Tribun Jogja di berbagai penggal jalan, sejumlah rambu lalin tampak menjadi sasaran vandalisme, hingga sebagian besar rupa rambu tertutup hingga rambu tak terbaca lagi oleh pengguna lalin. Misal saja rambu dilarang putar balik di perempatan Pojok Benteng Timur, perempatan Badran, serta pertigaan Jl Affandi - Jl Kolombo. Ada pula berbagai jenis rambu yang ditutupi poster berukuran kertas A4, semisal di pertigaan perlintasan kereta api barat Stasiun Lempuyangan dan sekitar Stadion Kridosono. Sementara rambu yang berganti menjadi rambu "H" terletak di pertigaan selatan Stadion Kridosono.

Nasib serupa juga menimpa papan petunjuk jalan di kawasan Jembatan Kleringan. Papan petunjuk jalan yang terlihat dari arah Jl Mangkubumi/ Jalan Margo Utomo, tampak dinodai berbagai coretan menggunakan cat semprot. Satu dari tiga papan petunjuk jalan tersebut bahkan nyaris tidak terbaca lagi tulisannya.

Warga Suryodiningratan, Nikia Syafina mengatkan, aksi coret-coret dan menutupi rambu lalin menggunakan poster membuat dirinya sebagai pengguna jalan kesulitan melihat rambu. Menurut dia, rambu seharusnya dapat terlihat jelas, termasuk oleh pengendara dari kejauhan. "Tapi saya juga tidak tahu mau menyalahkan siapa," kata Nikia.

Gunakan Tiner
Aksi vandalisme yang terjadi di Kota Gudeg semakin meresahkan. Tidak hanya tembok, rambu-rambu lalin termasuk juga lampu merah atau APILL (Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas).

Aksi vandalisme tersebut juga dikeluhkan Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta. Akibat vandalisme, rambu-rambu yang terpasang tidak bisa berfungsi dengan baik. Selain itu Dinas Perhubungan juga harus membersihkan rambu-rambu tersebut setiap hari.

Menurut Kepala Seksi Rekayasa Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta Windarto, aksi vandalisme menyasar rambu-rambu lalu lintas tersebut sangat merugikan karena fungsi rambu tersebut menjadi tidak optimal.

"Itu kan rambu yang bertujuan supaya orang tahu dan tertib di jalan. Kalau itu tidak berfungsi secara baik pasti akan menggangu," kata Windarto dikonfirmasi Tribun Jogja, Minggu (20/4).

Windarto menyebut jumlah rambu-rambu lalin yang ada di Kota Gudeg ini 4600 rambu. Dari jumlah tersebut memang tidak semuanya dicoret-coret. Menurut Windarto kebanyakan rambu lalin yang menjadi sasaran aksi vandalisme dalah rambu-rambu larangan.

Dikatakannya, upaya pembersihan rambu juga dilakukan Dishub. Ia menuturkan setiap hari ada personel yang membersihkan rambu-rambu yang menjadi sasaran coret-coret. Personel Dishub yang ditugaskan membersihkan rambu delapan orang mereka juga bertugas sebagai petugas patroli.

Windarto menyebutkan, apabila ada rambu yang jadi sasaran vandalisme maka akan dibersihkan petugas menggunakan tiner. Apabila rambu tersebut tidak bisa dibersihkan, maka rambu akan diganti.

"Hampir tiap hari kita bersihkan, tetapi masih tetap dicoret-coret. Kok yo kober-kober e (sempat- sempatnya, Red) ada juga yang naik ke tempat tinggi terus mencoret-coret (APILL-Red)," keluh Windarto.

Menurut Windarto pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk mengatasi aksi coret-coret menyasar rambu lali tersebut.Ia mengklaim, Dishub juga telah menyampaikannya saat rapat bersama SKPD lain.

Diduga, aksi vandalisme yang menyasar rambu-rambu lalu lintas itu dilakukan oleh anak-anak muda yang sering melakukan aksi yang sama di fasilitas umum dan tembok-tembok milik warga. Namun hingga saat ini, upaya penangkapan terhadap pelaku masih sulit dilakukan.

Sebelumnya, Dinas Ketertiban Kota Yogyakarta merencanakan akan membuat gugus tugas untuk mengatasi aksi vandalisme yang terjadi. Sebab, aksi vandalisme dinilai sudah sangat meresahkan.

"Gugus tugas baru disusun, namun saat ini kami bekerja sama dan menjalin komunikasi dengan berbagai komunitas untuk menanggulangi hal tersebut," kata Sukamto, Kepala Sat Pol PP Kota Yogyakarta. 

Sumber : jogja.tribunnews.com

278317 620Yogyakarta - Meski empat bulan berlalu setelah kereta api Senja Utama rute Jakarta-Surakarta menabrak empat pengandera kendaraan bermotor hingga tewas, pada 23 Januari 2014 di perlintasan kereta api di Dusun Tegalyoso, Kecamatan Gamping, Sleman, Yogyakarta, polisi belum juga menuntaskan penyelidikannya hingga kini. 

Masalahnya, polisi sulit untuk mendapat saksi ahli yang bisa dipercaya. “Kami sudah minta saksi ahli perkeretaapian. Tapi belum memperoleh yang paham persoalan,” kata Kepala Kepolisan Resor Sleman, Ajun Komisaris Besar Ihsan Amin, Senin, 21 April 2014.

Menurut Ihsan, saksi ahli yang diperlukan tak hanya menyangkut soal sistem jadwal kereta api, tapi juga memahami sistem sinyal kereta api. PT Kereta Api di Bandung, Ihsan menambahkan, sudah pernah mengirim saksi ahli ke Yogyakarta. Anehnya, polisi menolak, karena menilai orang yang disebut saksi ahli itu seorang dosen. “Kami kan harus tahu saksi ahli tersebut mempunyai legalitas atas keahliannya atau tidak,” kata Ihsan.

Ihsan menjelaskan, saksi ahli yang paham soal sistem sinyal kereta api dibutuhkan untuk membaca logger, alat yang merekam aktivitas di pos penjagaan perlintasan rel kereta api. Celakanya, orang yang punya kualifikasi itu bekerja di PT Kereta Api juga. “Jangan sampai kami mental di kejaksaan. Karena yang kami lawan, ya kereta api juga,” kata Ihsan.

Adapun Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) tidak dilibatkan dalam pengusutan kasus kecelakaan ini, lantaran kecelakaan yang terjadi bukan antar-kereta api, melainkan kereta api menabrak orang. “Dalam UU Kereta Api juga jelas menyebutkan, yang diutamakan lewat adalah kereta api saat melintas,” kata Ihsan.
 
Tapi pengendera kendaraan tidak menerobos pintu perlintasan yang tertutup. Pintu perlintasan justru dibuka setelah kereta api Prambanan Ekspres lewat menuju ke barat, sehingga sebagian pengendara kendaraan yang sudah menunggu segera melintas menyeberangi rel. Hanya dalam hitungan detik, kereta api Senjata Utama melintas dari arah barat ke timur dan menabrak pengendara yang sudah masuk perlintasan. Akibatnya, empat orang pengendara tewas tertabrak dan satu orang luka berat.

Hingga kini, polisi belum menahan satu pun petugas PT KAI, baik penjaga pintu perlintasan maupun masinis. Pelaksana Harian Manajer Humas PT KAI Daerah Operasional VI, Sumarsono, belum bisa memberikan pernyataan apa pun. “Kami sudah membentuk tim untuk mengusutnya. Tapi hasil kerjanya seperti apa, kami belum tahu,” kata Sumarsono.

Sumber : www.tempo.co

ilustrasi-traffic-light-BOYOLALI — Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Boyolali merencanakan pemasangan lampu lalu lintas atau traffic light baru di tiga lokasi baru, 2014 ini.

Melalui APBD tahun ini, Pemkab menyiapkan dana senilai Rp446 juta untuk pemasangan lampu lalu lintas di dua lokasi, yakni di perempatan Jl. Pahlawan, Kecamatan Boyolali, dan pertigaan pintu masuk Bandara Internasional Adi Soemarmo, Ngemplak. Sementara satu lokasi lainnya, yakni di Jl. Nasional, Desa Randusari, Kecamatan Teras, anggarannya bersumber dari bantuan pemerintah pusat.

Kepala bidang (Kabid) Lalu Lintas dan Angkutan Dishubkominfo Boyolali, Sigit Harimulyo, Sabtu (19/4/2014), mengemukakan pemasangan lampu lalu lintas di Jl. Pahlawan dan pertigaan pintu masuk Bandara Adi Soemarmo direncanakan akhir bulan ini.

“Proses lelang pemasangan traffic light dilaksanakan melalui mekanisme electronic procourement[e-proc] sudah terlaksana Maret kemarin, dan realisasinya dijadwalkan akhir bulan ini,” ungkap Sigit.

Sementara pemasangan lampu lalu lintas di pertigaan Jl. Nasional, sekitar PT Sari Warna, Desa Randusari, Kecamatan Teras, lanjut dia, saat ini masih dalam proses karena alat tersebut merupakan bantuan dari APBN.

Lebih lanjut Sigit menerangkan rencana pemasangan lampu lalu lintas tersebut dilakukan berdasarkan beberapa kriteria, di antaranya dengan memperhatikan faktor kepadatan lalu lintas, keselamatan, sering terjadi kemacetan, serta sering terjadi kecelakaan. “Beberapa kriteria di tiga lokasi tersebut terpenuhi dengan hasil analisis Dishubkominfo Boyolali melalui survei ke lapangan. Di lokasi-lokasi persimpangan itu memenuhi persyaratan dan perlu sekali dipasang traffic light,” katanya.

Pemasangan lampu lalu lintas di Jl. Nasional dan pertigaan pintu masuk Bandara Adi Soemarmo, bakal menggunakan sistem peralatan baru di antaranya jenis lampu LED, automatic counter downserta dilengkapi jaringan modern.

Ditambahkan dia, selain tiga lokasi tersebut, terdapat sejumlah persimpangan lainnya yang dinilai layak untuk dipasangi lampu lalu lintas, di antaranya depan SMA Bhinneka Karya (BK) Boyolali serta pintu masuk kompleks perkantoran terpadu Kantor Bupati Boyolali di Kemiri, Mojosongo. “Tapi untuk saat ini, yang dianggarkan baru dua lokasi tahun ini,” ujar dia menadaskan.

Sumber : www.solopos.com

Halaman 1 dari 286